Greta Oto

Mata kita saling mengenal,

tiba-tiba aku teringat akan palung yang menarikku jatuh ke dalam hitam jauh. Di sana aku mati, dan hanya menyisakan tabung oksigen untuk dilahatkan.

Bau rambutmu tercium,

aku dihempaskan pulang ke empat tahun yang lalu. Di kala aku tidak punya telinga untuk kananku, tanpa mata untuk kiri, dan bahkan tak bersuara untuk diriku sendiri. Saat aku melepehkan sepotong babi ke tong sampah, kamu lewat.

Jari kita bertautan,

telepon genggamku mengganggu. Kau mengisak-isak di telingaku, mengaktifkan sebuah kelenjar di kepalaku. Aku marah. Marah besar. Marah karena taktikmu yang gagal untuk kesekian kalinya. Marah karena kamu (lagi-lagi) sengaja menjahit kelopak matamu. Karena kamu ingin buta.

Aku marah. Dan tangisanmu meraung-raung sekarang.

“Tenang, kulitku tidak akan jadi hijau.” kataku menenangkan malammu. Dan setelahnya, aku tahu kamu tersenyum, dan mulai tahu, apa penyebab kemarahan ku yang sebenarnya

“Sayang kamu”

aku mengaku di hadapanmu. Bukan di atas lantai keramik putih, bukan di kursi belakang sebuah taksi, bukan di layar kaca selulermu, tapi di tempat kau untuk pertama kalinya lewat di depanku, di tempat aku mengharamkan apa yang haram bagimu.

dan saat catatan ini berakhir, terimakasihku kembali dimulai.

a l f a

Saat angka “8” terpampang pada pertanyaan “Continue ?” aku bingung.

Ingin mengeluarkan gerakan-gerakan lama tapi bosan.
Ingin melihat daftar jurus-jurus spesial yang ditawarkan kalian, tapi aku rasa itu curang. ‘Ga seru lagi.’
Jauh lebih mengasyikan menerka-nerka sendiri apa yang harus dilakukan agar bisa jadi juara.
Walaupun resikonya pasti pernah kalah. Pasti kok.
Tapi tenang aja, pasti juga engga akan kalah terus. Pasti lah.

Lalu angka “9” yang ada di depan mataku.

‘Masih pasti mungkin jadi salah satu juara kan?’

aku menekan tombol “segitiga” itu. bukan untuk “pause”, menjeda, dan lari seperti kemarin. tapi untuk mulai. untuk “start”. untuk Menjadi.

“10”

serius gue.

Pamit

Sampai jumpa, kali ini aku akan pergi ke selatan, ke arah yang lebih mengandalkan mata lebih memakai warna namun tetap kental asa. Jangan beritahu siapa saat kelak kalian tahu aku dimana. Aku hanya pergi sebentar kok, sebentar bagiku dan sebentar bagiNya. Terimakasih!

eulogi

Aku pernah membaca sebuah buku luar biasa.

Buku harian si Profesor.

Isinya benar-benar-benar-benar menakjubkan, begitu menggugahku. Ia bicara tentang mahluk yang paling berkuasa di muka bumi ini. Ia bicara tentang kita; Manusia. Katanya, manusia adalah mahluk yang paling cantik yang Tuhan cipta, paling kompleks pun sederhana. Melangit pun membumi. Istimewa namun memasar.

Si profesor senang sekali mengamati kita, terutama bagaimana cara kita terhubung satu sama lain. Kita berulang-ulang mengesahkan, bahwa kita heterotrof, tapi kita selalu malu mengucap.

Gengsi, menurut profesor.

Kita saling mengisi jarak-jarak kosong yang waktu sediakan (ia bicara tentang laci-laci meja yang tak ku mengerti), dan bersimbiosis.

Profesor juga cinta cara kita merespon. Detik dimana kita menerima lalu memberi atau tidak sama sekali. Ia hafal reaksi manusia diluar kepala. Ia cinta cacian kita, tangisan, tawa, cara kita mencacat, saat kita mendosa dan berdoa minta ampunan Tuhan.

Sampai tersisa sekitar 15 lembar terakhir, ia kerap mengisi bukunya dengan memuji-muji kita. Pujian atas kebaikan maupun keburukan. Tapi selanjutnya adalah ratapan.

Bukan ratapan milik nabi yeremia yang menangisi sesamanya dan sesama kita, tetapi ratapan untuk dirinya sendiri.

Aku tahu ia mengangis dan merintih. Tulisan-tulisan yang akan menutup bukunya justru terasa sangat pedih, bahkan bagiku.

Aku Sakit Melihat Kalian, Aku Merasa Janggal Dan Mual. Kalian Membuatku Sepi. Aku Benci Jadi Diriku.

Tuhan! Mengapa Saya Tidak Bisa Jadi Mereka! Betapa Pecumanya! Sia-Sia! Banaaaaaalll!! Mengamati Tapi Tak Bisa Menjadi! Aku Akan Terus Diluar! Tuhannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn… (huruf “n” disini sangat panjang sampai-sampai ia menghabiskan 2 halaman hanya untuk huruf “n”)

aku lelah Tuhan. aku menyerah. karena memang aku bukan manusia dan tak akan menjadi manusia.

Setelah aku membaca buku hariannya–yang setara indahnya dengan kitab suci–aku begitu mensyukuri kemanusiaanku.

Pengakuan Diri #4 ( bab : Darah )

6/7/10

Aku HITAM dengan sedikit percikkan emas yang membanggakanku.
Kamu EMAS dengan sedikit lelehan hitam yang membuatmu malu.

Kita dipasung oleh pernyataan. Pernyataan yang Bukan-Pernyataan-Kita dan pernyataan yang Pernyataan-Bukan-Kita.

Kamu hitam, dengan sejelai emas di dalamnya, dan aku emas, yang sudah 12 tahun lamanya, ditambal oleh hitam.

Me and You versus the world.