Akhirnya saya sampai juga.
(Aku memilih jalan menuruni lereng batu. Dengan harapan aku masih punya kesempatan mencium bau hipnosis itu. Bau embun. Bau yang selalu berhasil membuatku menghasilkan kuap.)
Huaamm~
(Aku memasuki ruang lobi, lalu berkamu dan menyalami beberapa orang yang kupanggil “guru”—walaupun tidak lebih dari setengah jumlahnya belum pernah mengajariku. Benar-benar tidak sekalipun pernah memberikan kontribusi padaku untuk mendapat ilmu—tanpa melihat wajah mereka.)
“Pagi,” kataku menjalankan rutinitas.
“wa’alaikumsallam,” katanya.
(Jangan bertanya apa-apa, memang begitu kenyataannya.)
@@@@@@
Ya Tuhan.
(Aku sedang menelusuri koridor di lantai dua.)
Ah sial.
Pagi ini aku bangun dan tidak mengharapkan ini terjadi!
Mengapa ia hadir di depanku di saat aku seperti ini? Sialan.
(Aku benar-benar belum siap! Rambutku saat itu seperti rambut milik Robert Smith. Bahkan janggutku belum sempat kucukur! Ini serius.)
Ah. Celaka, ia datang.
(Seorang gadis mendekat kepadaku. Kau mau tahu seperti apa parasnya? Mmm… jika ia dibandingkan dengan Titi Kamal, ya kira-kira dua berbanding satulah.)
“Hai,” sapanya.
(Aku kaget, lalu terpana.)
Demi Tuhan, kata-kata yang barusan keluar dari mulutmu sangat indah. Walau hanya tiga patah kata saja. Benar-benar indah.
“Hei, apakah kau baik-baik saja?” tanyanya sambil mengerutkan alis.
“Mm? Hah? Ya! Ya! Jelas aku baik-baik saja!” ujarku gelagapan.
Bajingan. Apa yang kulakukan barusan?
Eh.
Rupanya dia tertawa.
Manisnya.
“Siapa namamu?”
Ah, dia menanyakan namaku.
“Namaku…..”
(Dan kau tahu? aku menyesal menyebut namaku.)
yermii.. gw kaget ngeliat blog lo. tnyata kita samaaa.. blognya menulis hehe! bagus bagus! gw link yaa?? baca blog gw juga yaa?? ehehehhe
http://www.theredglasses.wordpress.com