Mata kita saling mengenal,
tiba-tiba aku teringat akan palung yang menarikku jatuh ke dalam hitam jauh. Di sana aku mati, dan hanya menyisakan tabung oksigen untuk dilahatkan.
Bau rambutmu tercium,
aku dihempaskan pulang ke empat tahun yang lalu. Di kala aku tidak punya telinga untuk kananku, tanpa mata untuk kiri, dan bahkan tak bersuara untuk diriku sendiri. Saat aku melepehkan sepotong babi ke tong sampah, kamu lewat.
Jari kita bertautan,
telepon genggamku mengganggu. Kau mengisak-isak di telingaku, mengaktifkan sebuah kelenjar di kepalaku. Aku marah. Marah besar. Marah karena taktikmu yang gagal untuk kesekian kalinya. Marah karena kamu (lagi-lagi) sengaja menjahit kelopak matamu. Karena kamu ingin buta.
Aku marah. Dan tangisanmu meraung-raung sekarang.
“Tenang, kulitku tidak akan jadi hijau.” kataku menenangkan malammu. Dan setelahnya, aku tahu kamu tersenyum, dan mulai tahu, apa penyebab kemarahan ku yang sebenarnya
“Sayang kamu”
aku mengaku di hadapanmu. Bukan di atas lantai keramik putih, bukan di kursi belakang sebuah taksi, bukan di layar kaca selulermu, tapi di tempat kau untuk pertama kalinya lewat di depanku, di tempat aku mengharamkan apa yang haram bagimu.
dan saat catatan ini berakhir, terimakasihku kembali dimulai.