Aku pernah membaca sebuah buku luar biasa.
Buku harian si Profesor.
Isinya benar-benar-benar-benar menakjubkan, begitu menggugahku. Ia bicara tentang mahluk yang paling berkuasa di muka bumi ini. Ia bicara tentang kita; Manusia. Katanya, manusia adalah mahluk yang paling cantik yang Tuhan cipta, paling kompleks pun sederhana. Melangit pun membumi. Istimewa namun memasar.
Si profesor senang sekali mengamati kita, terutama bagaimana cara kita terhubung satu sama lain. Kita berulang-ulang mengesahkan, bahwa kita heterotrof, tapi kita selalu malu mengucap.
Gengsi, menurut profesor.
Kita saling mengisi jarak-jarak kosong yang waktu sediakan (ia bicara tentang laci-laci meja yang tak ku mengerti), dan bersimbiosis.
Profesor juga cinta cara kita merespon. Detik dimana kita menerima lalu memberi atau tidak sama sekali. Ia hafal reaksi manusia diluar kepala. Ia cinta cacian kita, tangisan, tawa, cara kita mencacat, saat kita mendosa dan berdoa minta ampunan Tuhan.
Sampai tersisa sekitar 15 lembar terakhir, ia kerap mengisi bukunya dengan memuji-muji kita. Pujian atas kebaikan maupun keburukan. Tapi selanjutnya adalah ratapan.
Bukan ratapan milik nabi yeremia yang menangisi sesamanya dan sesama kita, tetapi ratapan untuk dirinya sendiri.
Aku tahu ia mengangis dan merintih. Tulisan-tulisan yang akan menutup bukunya justru terasa sangat pedih, bahkan bagiku.
Aku Sakit Melihat Kalian, Aku Merasa Janggal Dan Mual. Kalian Membuatku Sepi. Aku Benci Jadi Diriku.
Tuhan! Mengapa Saya Tidak Bisa Jadi Mereka! Betapa Pecumanya! Sia-Sia! Banaaaaaalll!! Mengamati Tapi Tak Bisa Menjadi! Aku Akan Terus Diluar! Tuhannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn… (huruf “n” disini sangat panjang sampai-sampai ia menghabiskan 2 halaman hanya untuk huruf “n”)
aku lelah Tuhan. aku menyerah. karena memang aku bukan manusia dan tak akan menjadi manusia.
Setelah aku membaca buku hariannya–yang setara indahnya dengan kitab suci–aku begitu mensyukuri kemanusiaanku.
manusia yang menanggalkan kemanusiaannya.ada jugayang kaya gitu me.